Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Kajian Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit

Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Kajian Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Kajian Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit. Kegiatan FGD ini dilakukan secara hybrid di Yogyakarta pada tgl 10 Oktober 2024.  Kegiatan yang di buka oleh Direktur Perencanaan dan Pengelolaan Dana BPDPKS, Kabul Wijayanto yang menyampaikan kegiatan ini bertujuan untuk mengukur secara ilmiah terkait keberhasilan pelaksanaan program BPDPKS dalam mencapai tujuan diperlukan adanya suatu kajian Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit.
FGD dengan mengundang stakeholder terkait yaitu ALPENSI yang terdiri dari pengurus dan lembaga pendidikan yang menjadi anggota ALPENSI. Lembaga pendidikan yang hadir adalah lembaga -lembaga penyelenggara pendidikan dan pelatihan SDM PKS yang memenuhi kriteria untuk menyelenggarakan Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit berdasarkan Keputusan BPDPKS.  Selain stakeholder terkait, hadir 3 narasumber, yaitu Dr. Rusman Heriawan – Wakil Menteri Pertanian 2011-2014, Dr. Gulat ME Manurung, MP., C.IMA., C.APO – Ketua Umum DPP Apkasindo, dan Ir. Darmansyah Basyaruddin, MSc – Ketua Komite Pengembangan SDM PKS BPDPKS.

Narasumber Pertama yakni Rusman Heriawan menyampaikan materi paparan ”Pertumbuhan Industri Kelapa Sawit Terhadap Kebutuhan SDM Industri Sawit”. Rusman menyampaikan beberapa catatan, diantaranya persaingan global yang semakin ketat, akan terus terjadi, PHK di sektor-sektor non sawit yang tidak kompetitif memerlukan lapangan kerja baru. Dan Siapkah sektor penyedia tenaga kerja memenuhi kebutuhan SDM sawit yang semakin beragam, bukan kuantitasnya saja, tetapi lebih pada kualitasnya?. Untuk ini, jawabannya ada pada dunia pendidikan (perguruan tinggi dan politeknik), dan dunia pelatihan dan penyuluhan. Penyuluhan oleh para penyuluh (ASN, penyuluh mandiri, swasta) khususnya untuk pekebun rakyat masih dibutuhkan, tentu di bawah koordinasi Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian ( BPPSDMP ).

Pada sesi kedua, Gulat ME Manurung menyampaikan bahwa sebagaian besar petani swadaya berasal dari keluarga berpengahsilan menengah ke bawah. “Sebagian besar petani swadaya berasal dari keluarga berpenghasilan menengah ke bawah. Mereka menguasai kurang dari 4 Ha lahan. Mereka terdiri dari masyarakat lokal dan transmigran  dengan tingkat pendidikan rendah. Namun, mereka dapat memiliki pekerjaan yang layak di Perkebunan Kelapa Sawit dan telah berada di pekerjaan ini selama sekitar 10 tahun’, tambahnya
Selain  Dr. Rusman Heriawan dan Dr. Gulat ME Manurung, MP., C.IMA., C.APO sebagai narasumber, hadir juga narasumber pada sesi terakhir, Ir. Darmansyah Basyaruddin, MSc. Narasumber pada sesi terakhir menyampaikan tentang, masa depan perkebunan kelapa sawit, dikaitkan dengan kebutuhan SDM Perkebunan Kelapa Sawit dari perspektif quantitatif & qualitatif. Darmansyah menyampaikan latar belakang perlunya pengembangan SDM Kelapa Sawit Indonesia. Dilanjutkan menjelaskan pengembangan SDM kelapa sawit itu merupakan suatu keharusan di era persaingan global. 
Menurut Darmansyah, Program pendidikan dan pelatihan SDM PKS merupakan salah satu upaya penting yang perlu dilanjutkan dan ditingkatkan. Karena Program Pengembangan SDM PKS dibutuhkan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, profesionalisme, kemandirian dan dedikasi pekebun, tenaga pendamping dan masyarakat perkebunan  kelapa sawit lainnya. Oleh karena itu untuk mewujudkan tersedianya SDM kompeten/profesional, perlu didukung dengan program  pengembangan SDM yang terencana dengan baik, terimplementasi sesuai rencana dan tentu saja merujuk pada kebutuhan dunia  usaha dan dunia industri kelapa sawit berkelanjutan Indonesia.  


Program Pendidikan dan Pelatihan yang dilakukan dengan dukungan BPDPKS perlu dilanjutkan, ditingkatkan dan dipercepat baik terkait kuantitas maupun  kualitasnya,  karena masih sangat minimnya dukungan SDM kompeten/profesional, terutama  dalam menghadapi tantangan usaha perkebunan kelapa sawit Indonesia ke depan. Kerjasama yang sudah berjalan dengan baik antara BPDPKS, Ditjen Perkebunan dan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan, perlu ditingkatkan lagi seiring dengan peningkatan dan percepatan yang diperlukan dalam rangka pengembangan SDM PKS kompeten/professional seiring dengan tantangan yang dihadapi kedepan oleh industri kelapa sawit Indonesia (YUL/AN).